Seorang pendongeng saat membawakan dongengnya akan terjadi kontak batin dengan pendengarnya. Kontak batin ini terlihat saat pendengarnya menikmati dongeng yang kita sampaikan. Begitu sebaliknya, bila pendengar tidak memperhatikan kita, berbicara sendiri atau membuat gaduh, maka terlihat sekali tidak ada kontak batin dengan pendongengnya, dan bisa dikatakan bahwa pendongeng ini “gagal” dalam menyampaikan dongengnya

 

Dongeng merupakan cara yang sangat baik untuk mengembangkan daya pemahaman dan bicara, mendengarkan dan berkonsentrasi, mendengarkan dan memperhatikan, serta dapat menambah perbendaharaan kata baru. Bila mendongeng dengan menggunakan buku, maka hal ini merupakan proses belajar membaca dan menulis.

 

Dengan mendongeng sesuatu hal / persitiwa yang anak-anak belum pernah mengetahui atau mengalaminya. Dongeng menawarkan kesempatan anak-anak menginterprestasi dengan mengenali kehidupan di luar pengalaman langsung mereka. Mereka diperkenalkan pada pola dan motivasi tingkah laku manusia. Dengan demikian, mereka dipersiapkan menghadapi dunia yang lebih luas dan besar.

 

Setiap dongeng yang kita bawakan harus memiliki pesan moral. Pesan moral yang kita sampaikan bisa diawal, ditengah atau diakhir dongeng sebagai kesimpulan. Dongeng yang merupakan salah satu media yang efektif untuk mendidik anak, tentunya dapat dimanfaatkan untuk memberikan pesan-pesan moral kepada anak. Nilai-nilai moral dalam dongeng terejawantah atau mewujud melalui perilaku dan dialog antar tokoh.

 

Mendongeng merupakan salah satu sarana untuk memberikan penjelasan yang bersifat identifikasi diri / perbuatan agar anak terdorong untuk mencontoh tokoh utamanya / perbuatan-perbuatan yang baik. Misalnya adab makan, adab kencing, sopan santun kepada orang tua, dan lain-lain.

Page 2 of 3

Articles Category

Baiklah Kak Kus, bantu saya untuk bisa mendongeng

Daftar Member