Kita sering mendengar kata “Dongeng”, namun kadang kita tidak mengetahui pengertian dongeng yang sebenarnya. Pengertian dongeng dari beberapa literatur yakni Dongeng termasuk dalam cerita rakyat lisan. Menurut Danandjaja (1984) cerita rakyat lisan terdiri atas mite, legenda, dan dongeng. Mite adalah cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan dianggap suci oleh yang empunya cerita. Mite ditokohkan oleh ou makhluk setengah dewa. Peristiwanya terjadi di dunia lain, bukan di dunia seperti yang kita kenal sekarang, dan terjadi pada masa lampau.Sedangkan legenda adalah cerita rakyat yang mempunyai ciri-ciri miripi dengan mite, yaitu dianggap benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci. Legenda ditokohkan oleh manusia, walaupun kadang-kadang mempunyai sifat luar biasa dan sering kali dibantu oleh makhluk-makhluk ajaib. Tempat terjadinya adalah di dunia seperti yang kita kenal sekarang, dan terjadinya belum terlalu lampau.

Sebaliknya, dongeng adalah cerita rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita dan dongeng yang tidak terikat oleh waktu maupun tempat. Dongeng yang diceritakan terutama untuk hiburan, walaupun banyak juga dongeng yang melukiskan kebenaran, berisi ajaran moral, bahkan sindiran.

 

 

          Parkin (2004) mengatakan bahwa seorang pendongeng mengemban tugas untuk menjaga kelengkapan sebuah cerita dengan mengekspresikan apa yang tidak mampu diekspresikan dalam cerita. Melalui kegiatan mendongeng, seorang pendongeng dapat melatih kemampuannya dalam mempersepsi dan mengekspresikan   emosi   dengan  tepat, yang berdampak pada kemampuannya dalam mengembangkan self-awareness.

Pendongeng yang baik harus mampu memberikan gambaran audio visual melalui kata-kata, gerak tubuh, ekspresi wajah dan suara. Namun dalam kehidupan sehari-hari, seringkali manusia mengalami fluktuasi emosi. Orang tua pun tidak selalu mempunyai keadaan emosi yang baik. Guna menjaga keutuhan cerita, orang tua yang sedang mendongeng harus mampu mengatasi dan meregulasi fluktuasi emosi mereka yang menuntut self-control yang baik.

Selanjutnya, pendongeng harus mampu berempati dengan karakter yang diceritakan untuk mengetahui perasaan yang ingin digambarkan oleh sebuah cerita. Kegiatan mendongeng memfasilitasi pendongeng untuk mengembangkan kemampuannya untuk berempati dengan karakter dalam cerita.

xanax-wiki.com/

Kegiatan mendongeng skala kecil dapat dilakukan kepada anak-anak kita di rumah. Menikmati sebuah dongeng, sudah mulai tumbuh pada seorang anak semenjak ia mulai mengerti akan suatu kejadian yang terjadi di sekitarnya dan setelah memorinya mampu menangkap beberapa kabar cerita. Masa tersebut mulai pada akhir tahun ketiga  usia seorang anak yang belia dapat memperhatikan penyampaian cerita sesuai dengan karakter anak tersebut.

Ia akan mendengarkan cerita tersebut dan menikmatinya, ia akan meminta cerita tersebut diceritakan kembali. Dongeng yang disajikan dengan baik membangun sejenis energi yang istimewa antara si pendongeng dan pendengar.

 

Ketika mendongeng, orang tua berperan sebagai penikmat cerita, pendongeng sekaligus orang tua bagi anak. Kegiatan mendongeng yang dilakukan oleh orang tua dapat berfungsi sebagai pembimbingan emosional karena kegiatan ini memberikan kesempatan bagi pendongeng dan audiensnya untuk memperoleh suatu pengalaman tanpa harus mengalaminya sendiri secara langsung. Dengan begitu, orang tua dapat memperkenalkan berbagai bentuk pengalaman emosional berbagai alternatif penyelesaian yang disediakan oleh cerita (Bruner, 2005; King & Down, 2001; Yudha, 2007).

 

 

         Masyarakat Indonesia sudah mengenal dongeng sejak zaman dulu. Pada jaman kerajaan, hidup para pendongeng dijamin oleh raja. Mereka pun mendapat gelar kehormatan dari kerajaan. Saat raja sedang berduka, pendongeng diundang ke istana senagai ”pelipur lara”. Tak heran bila pada masa itu juru dongeng juga mempunyai peranan penting sebagai juru hibur bagi kerabat kerajaan.

            Di luar istana, nenek moyang kita ternyata juga hebat dalam hal mendongeng. Petualangan di rimba raya atau samudera luas, mereka dongengkan dengan penuh kebanggan. Dongeng itu pun diteruskan secara turun temurun, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kita juga mengenal istilah juru dongeng di Indonesai. Di Aceh tukang cerita disebut ’pmtoh (kope)’ sedangkan di Jawa ada yang disebut sebagai ”tukang kentrung”. Tukang kentrung berkeliling dari satu tempat ke tempat lain sambil membawa semacam tambur yang disebut ’terbang’. Di Jakarta (Betawi) ada ’syahibul hikayat’. Mereka mendongeng sambil diiringi alat-alat tersebut dan cerita-cerita yang dituturkan biasanya bersifat religius atau magic.

 

 

Page 1 of 3

Articles Category

Baiklah Kak Kus, bantu saya untuk bisa mendongeng

Daftar Member